“Modal Receh, Bahagia Mewah:

Catatan Perjalanan English Club Reborn.”

Bengalon, 14 Maret 2026.

Kadang, rencana yang disusun dengan ambisi setinggi langit harus berbenturan dengan realitas yang keras. Tapi di situlah letak seninya. Cerita ini bukan tentang kemewahan, melainkan tentang bagaimana uang “receh” dan tekad baja bisa membawa kami melampaui ekspektasi.

Semua bermula di bulan Oktober 2025. Saat itu, aura semangat anggota English Club Reborn 2025 sedang membara. Di setiap pertemuan rutin, agenda utama bukan lagi sekadar grammar atau speaking, tapi sebuah mimpi besar: Tur ke Kota Bontang. Bayangannya sudah sangat estetik: jalan-jalan jauh, pakai kaos seragam keren, dan foto-foto di spot ikonik. Kami bahkan sudah sepakat membuat proposal, mengetuk pintu-pintu perusahaan tambang di Bengalon dengan harapan ada kucuran dana segar.

Namun, seiring berjalannya waktu, satu per satu impian itu rontok. Sponsor belum kunjung memberi kabar pasti. Rencana pembuatan kaos seragam? Gagal total. Rencana ke Bontang? Terpaksa dicoret karena biaya dan logistik yang tidak sinkron. Bahkan, dari 18 orang yang awalnya berapi-api, jumlahnya menyusut menjadi 14 orang saja saat mendekati bulan Desember 2025. Ada yang tiba-tiba punya urusan keluarga, ada yang terkendala izin, hingga alasan-alasan klasik lainnya yang sempat membuat mental tim agak goyah.

Tujuan akhirnya digeser ke yang lebih realistis: Sangatta, Kutai Timur. Murah, dekat, tapi yang penting kebersamaan tetap terjaga. Kami sepakat: satu orang cukup urunan Rp100.000. Dengan 14 orang yang tersisa, terkumpullah dana “keramat” sebesar Rp1.400.000. Angka yang bagi sebagian orang mungkin hanya cukup untuk sekali makan di restoran mewah, tapi bagi kami, ini adalah modal untuk menaklukkan tiga destinasi sekaligus.


Perjalanan Dimulai: Tantangan di Batota

Sabtu pagi, 14 Maret 2026, jarum jam menunjukkan pukul 07.30 WITA. Udara Bengalon masih cukup segar saat kami berkumpul di titik keberangkatan. Saya, Pak Didik, sudah berkoordinasi matang dengan Pak Fanny dan Pak Zabur yang berbaik hati menyetir dua mobil plat merah milik sekolah kami. Sementara saya dan satu siswa tangguh bernama Fachri, memilih membelah angin dengan sepeda motor, mengawal iring-iringan dari belakang.

“Ingat, jaga sikap di tempat orang. Kita membawa nama baik sekolah dan klub,” tegas saya saat memimpin briefing singkat. Kata-kata itu penting, karena adab selalu lebih tinggi daripada sekadar tamasya.

Perjalanan sejauh 60 km menuju Sangatta pun dimulai. Namun, baru sekitar 10 km meninggalkan Bengalon, tepatnya ke arah Batota, drama pertama muncul. Sebuah truk raksasa yang mengangkut alat berat tergelincir, menutup sebagian akses jalan. Kemacetan mulai mengular, debu jalanan yang ikonik mulai menempel di jaket. Di sini kesabaran kami diuji. Apakah perjalanan ini akan terhenti sebelum benar-benar dimulai? Beruntung, berkat kelihaian Pak Fanny dan Pak Zabur, kami berhasil melewati celah jalan dan melanjutkan misi menuju Sangatta.


Destinasi 1: Gagahnya Alat Berat di Bukit Pandang

Plot awal kami sebenarnya hanya ke Teluk Lingga. Namun, jiwa petualang kami meronta. Kenapa tidak mampir dulu ke Bukit Pandang? Mumpung searah dan pemandangannya juara.

Sesampainya di sana, mata anak-anak langsung berbinar. Di Bukit Pandang, kami menghabiskan waktu sekitar satu jam. Bukan cuma melihat pemandangan kota dari ketinggian, tapi anak-anak sangat antusias mengelilingi alat-alat berat raksasa yang dipajang di sana. Foto sana, foto sini—konten media sosial mereka langsung penuh dengan latar belakang “monster” tambang yang gagah.


Destinasi 2: Deburan Ombak Teluk Lingga

Setelah puas di Bukit Pandang, perjalanan berlanjut ke Teluk Lingga. Hanya butuh 15-20 menit berkendara. Di pintu gerbang, “biaya receh” kami kembali diuji akurasinya. Mobil membayar karcis Rp15.000, sementara saya dan Fachri dengan motor hanya Rp7.000-an. Sangat ramah di kantong!

Kami langsung menyewa sebuah gazebo seharga Rp75.000 sebagai markas besar. Di sana, kami menghabiskan waktu lebih dari tiga jam. Sebelum anak-anak “dilepas” ke bibir pantai, saya kembali memberikan instruksi tegas. “Jangan buang sampah sembarangan! Jaga etika!” teriak saya.

Momen puncaknya adalah makan siang bersama. Kami membuka nasi bungkus dengan ayam goreng renyah yang dibeli dari warung di Sangatta. Aroma ayam goreng itu seolah menjadi mood booster luar biasa. Sambil mengunyah, saya memberikan saran yang cukup realistis: “Makan besar cuma sekali ini ya, dari dana urunan. Kalau nanti ada yang lapar lagi, ditanggung masing-masing.” Anak-anak mengangguk setuju, karena mereka tahu ini adalah tur hemat energi namun kaya memori.

Selepas makan, kegembiraan pecah. Mereka berlarian ke pantai Teluk Lingga, bermain air, dan tertawa lepas seolah beban tugas sekolah sirna tertiup angin laut. Lucunya, beberapa menit setelah “makan besar”, perut remaja memang tidak bisa dibohongi. Rasa lapar melanda lagi setelah capek bermain air, dan akhirnya mereka menyerbu warung-warung sekitar dengan uang saku masing-masing.


Destinasi 3: Kedamaian di Islamic Center

Waktu menunjukkan menjelang siang, matahari tepat di atas kepala. Adzan Dzuhur mulai berkumandang. Di sinilah momen paling kompak terjadi. Atas inisiatif Pak Zabur yang sangat religius namun tetap santai, kami memutuskan untuk menuju ke Islamic Center di Bukit Pelangi.

Masjid megah ini menjadi pelabuhan ketiga kami. Kedamaian langsung terasa saat kami memasuki pelataran masjid yang luas dan asri. Kami shalat berjamaah, mendinginkan suhu tubuh dan pikiran setelah seharian berada di bawah terik matahari. Berada di sana seolah menjadi penutup spiritual yang menyempurnakan perjalanan fisik kami.


Matematika Kebahagiaan: Kalkulasi Dana Receh

Mari kita bedah rahasia di balik angka Rp1.400.000 ini:

  • Bahan Bakar: Rp600.000 untuk dua mobil operasional sekolah (plat merah).
  • Spanduk: Rp40.000 (biar tetap eksis dan terlihat profesional).
  • Karcis & Gazebo: Sekitar Rp100.000-an.
  • Makan Siang: Sekitar Rp150.000 (nasi bungkus ayam renyah).

Siapa sangka, modal Rp100.000 per orang yang awalnya terasa sangat terbatas, bisa membawa kami menaklukkan tiga destinasi sekaligus: Bukit Pandang, Teluk Lingga, dan Bukit Pelangi.

Tur ini mengajarkan anggota English Club Reborn 2025 bahwa yang terpenting bukanlah seberapa jauh atau seberapa mewah tujuan kita, melainkan bagaimana kita mengelola sumber daya yang ada dan menjaga kekompakan tim. Meskipun jumlah peserta menyusut dan rencana besar ke Bontang gagal, kualitas kebahagiaan kami justru berlipat ganda.

Perjalanan ini akan menjadi tonggak sejarah yang kemungkinan besar akan kami jadikan agenda tahunan. Tentu saja, tahun depan harus direncanakan lebih matang, lebih serempak, dan mungkin dengan sponsor yang sudah “nyangkut”. Namun untuk saat ini, kami pulang ke Bengalon dengan hati penuh dan dompet yang tidak benar-benar kosong.

Ternyata, bahagia itu tidak harus mahal.

Cukup urunan seratus ribu, tiga tempat pun terlampau.

Penulis : Didik H

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *